Liquid Dreams, Pameran Tunggal Jumaadi Pada Desember 2021

by Kabar Seni
Liquid Dreams Jumaadi

Liquid Dreams, Pameran Tunggal Jumaadi – Bersamaan dengan dilaksanakannya perhelatan besar THE 10TH ASIA PACIFIC TRIENNIAL OF CONTEMPORARY ART (APT10), Jan Manton Gallery mempersembahkan Liquid Dreams. Pameran tunggal dari Jumaadi yang dilaksanakan pada 1 – 23 Desember 2021 di Jan Manton Gallery, 54 Vernon Terrace, Teneriffe. QLD 4005 Australia.

Melalui pameran tunggal Liquid Dreams ini, Jumaadi akan bereksplorasi terhadap cat air dan kuas di atas kertas. Selain itu, karya-karya Jumaadi kali ini akan banyak mem-visualisasikan tentang landscape dan perasaan seseorang yang terasing di tengah cakrawala yang sangat luas.

Sumber : Jan Manton Gallery

Tentang Liquid Dreams

Dalam wawancaranya dengan Embie Tan Aren, Jumaadi mengatakan jika karya-karyanya kali ini merupakan penggambaran dari berbagai pendekatan manusia dalam mengatasi kesengsaraan. Obyek landscape dan alam pada karya-karyanya merupakan visualisasi dari dalam pikirannya.

Menurut Jumaadi, melukis itu seperti sebuah pelarian. Beberapa karya dibuat dengan sangat detail dan beberapa di antaranya bersifat lebih ekspresif. Karena karya tersebut dibuat di atas kertas, implementasi visual tersebut terjadi secara langsung dan ada rasa urgensi di dalamnya.

Latar Belakang Karya

Sumber : Jan Manton Gallery

Ketika pandemi menghantam kita semua, Jumaadi tidak bisa pergi ke Studionya yang ada di Imogiri, Yogyakarta. Oleh sebab itu, dia terpaksa harus bekerja di meja ruang tamu rumahnya yang ada di Sydney, Australia.

Dalam prosesnya, Jumaadi bekerja mulai dari jam 7 pagi hingga jam 5 sore. Dengan begitu dia bisa mendapatkan pencahayaan alami karena dia tidak terlalu suka ketika bekerja dengan pencahayaan sintetis.

Dalam situasi yang terisolir tersebut, Jumaadi selalu bekerja sendiri. Hanya ada dia, meja, dan cat. Terkadang juga ditemani dengan musik atau membaca buku ketika sedang beristirahat.

“Saya selalu memulai dengan menggambar saja. Menggambar pohon, binatang, atau ide abstrak lainnya. Terus dan terus. Hal-hal kecil akan mulai terjadi. Ada beberapa hari di mana gambar dan ide membanjiri pikiran saya sehingga saya harus bekerja lebih cepat”, Terang Jumaadi.

Dalam berkarya, Jumaadi tidak seperti seniman kontemporer yang bekerja berdasarkan kajian filosofi, teori, ataupun penelitian lainnya. Meskipun pada dasarnya Jumaadi tetap melakukan penelitian, namun penelitian tersebut tidak dilaksanakan secara langsung satu waktu dengan proses kreatifnya.

Menurut Jumaadi, gambar yang terbentuk adalah penelitian itu sendiri. Gambar tersebut menunjukkan hasil dari pemikirannya. Ketika dia melukis dengan cat air dan kuas, itu adalah waktu di mana bisa berfikir dan hal tersebut memberinya ruang.

Karya-karya pada liquid dreams memiliki ukuran dan kuantitas yang berbeda. Jumaadi memotong dari potongan kertas yang besar untuk membuat potongan yang lebih kecil. Lalu setelah itu Jumaadi melukis dan mengkolasi bersama untuk menciptakan gambar baru.

Jumaadi berpendapat jika potongan-potongan yang lebih kecil bertindak sebagai jendela kecil untuk melihat cakrawala.

“Ketika melukis landscape pada satu waktu tertentu, anda bisa kehilangan banyak hal. Landscape seperti makhluk hidup. Mereka berpikir dan bergerak, sama seperti kita. Merka bukan hanya obyek. Mereka melihat anda ketika anda melihat mereka. Mereka menyaksikan cerita, tragedi, pembantaian, dan segala macam hal,” tutur Jumaadi.

Jumaadi hanya menggunakan dua atau tiga warna dalam karya-karyanya dalam Liquid Dreams. Kebanyakan warna yang digunakan adalah abu-abu. Hal tersebut untuk menciptakan suasana melankolis di dalam cakrawala tersebut. Yang pada akhirnya menciptakan sebuah visual yang menakjubkan tentang perbukitan sunyi dan langit kosong yang terus bergerak.

Aspek Budaya Indonesia Dalam Karya-karya Jumaadi

Sumber : Jan Manton Gallery

Semua orang yang pernah melihat karya Jumaadi, khususnya audience dari Indonesia pasti beranggapan bahwa karya-karya tersebut memiliki aspek budaya Indonesia yang kuat. Namun apakah itu benar?

Jumaadi berpendapat bahwa banyak orang mungkin melihat adanya aspek budaya Indonesia di dalam karya-karyanya. Mungkin karena banyak orang yang merasa dekat dengan narasi yang terbentuk. Namun menurut Jumaadi bahwa karya-karya tersebut tidak selelu berdasarkan dari aspek budaya Indonesia.

Meskipun secara visual karya Jumaadi seperti bersetting di Indonesia, namun seringnya karya-karya tersebut hanya dibuat seolah-olah seperti itu dan tidak ada maksud tertentu.

Proses Kreatif Liquid Dreams

Sumber : Jan Manton Gallery

Dalam proses kreatifnya di liquid dreams, Jumaadi berpendapat bahwa dalam karya-karya ini masih terdapat ruang untuk ide-ide baru. Dengan kata lain, gagasan dalam karya di Liquid Dreams ini masih bisa terus berkembang.

“Ini adalah proses menyangkal dan menerima apa yang anda ketahui. Mungkin anda tahu bagaimana cara membuat warna abu-abu. Tetapi kemudian, tiba-tiba pengalam pengalaman anda sendiri menyangkal hal tersebut. Lalu anda berfikir, mungkin ini bukan abu-abu yang bagus, atau abu-abu ini sebenarnya tidak menggambarkan apapun,” tutur Jumaadi.

Percakapan dalam diri tersebut terus-menerus terjadi di dalam batinnya. Di satu sisi, hal tersebut merupakan pengumpulan pengetahuan yang luar biasa.

“Pendekatan ini memberi saya banyak pengalaman dan latihan untuk melukis cakrawala hanya dengan dua atau tiga warna,” terusnya.

Rasa Kesepian Untuk Para Audience

Sumber : Jan Manton Gallery

Sebuah cakrawala terasa cukup kontemplatif dan reflektif saat mereka membimbing kita untuk diam dengannya. dalam liquid dreams, Jumaadi ingin menggambarkan kesepian yang dirasakan saat ini. Ada rasa perpindahan dalam kekosongan tetapi juga kepenuhan pada saat yang sama.

Menurut Jumaadi, kesepian bukanlah ide yang buruk, begitulah cara untuk menghadapinya. Manusia banyak melakukan berbagai hal secara sendiri, dan manusia juga melakukan banyak hal untuk sendiri.

Jumaadi beranggapan bahwa tidak ada yang salah dengan cara berfikir seperti itu. Lukisan-lukisan itu tidak memiliki banyak informasi dan dia berfikir masih bisa menarik para audience untuk merenungkannya.

“Tidak ada implikasi moral atau pesan filosofis di dalamnya karena saya tidak tertarik dengan hal semacam itu,” ungkap Jumaadi.

“Saya juga menyukai gagasan untuk fokus pada warna dan pigmen. Ini adalah bahasa yang sering diabaikan karena bisa lebih menekankan pada pesan dari sebuah lukisan. Apa yang saya coba tunjukkan kepada penonton adalah bahwa dengan karya cat air, bahkan ujung sebuah kertas dapat menawarkan keindahan yang signifikan,” lanjutnya.

Nuansa abu-abu yang tertoreh di dalam cakrawala diharapkan mampu mendorong audience untuk menambah pengalaman mereka sendiri. Selain itu, Jumaadi berharap agar para audience mampu melihat dan menghargai keindahan sabagai cara hidup manusia.

Pameran tunggal Jumaadi Liquid Dreams dipamerkan di Jan Manton Gallery pada tanggal 1 – 23 Desember 2021.

Sumber wawancara oleh Embie Tan Aren. Gambar karya seni yang diambil oleh Carl Warner. Dari konten Studio milik Jan Manton Gallery dan Jumaadi.

related posts

Leave a Comment